edukasi E-LAHAB: Ruam kulit

etelah seseorang terinfeksi virus HIV dan AIDS, gejala yang paling umum terjadi adalah munculnya ruam kulit, biasanya dalam dua bulan setelah infeksi terjadi. Ruam kulit yang terjadi karena infeksi virus ini bisa terasa sangat gatal dan membentuk area datar dengan warna kemerahan dan benjolan kecil yang melingkar di sekelilingnya. Sementara pada orang yang memiliki warna kulit yang cenderung gelap, ruam akan tampak berwarna ungu.

Ruam bisa terjadi pada bagian tubuh mana saja. Ketika infeksi awal terjadi, ruam dan gatal-gatal karena HIV bisa disertai dengan gejala lainnya, seperti sakit kepala, sakit tenggorokan, diare, nyeri otot, kelelahan, demam, dan pembengkakan pada kelenjar getah bening. Setelah dua minggu, biasanya ruam dan gejala lainnya akan mulai mereda.

Tak hanya menjadi gejala awal infeksi, ruam kulit HIV juga bisa terjadi karena efek samping dari obat-obatan HIV itu sendiri. Beberapa jenis ruam kulit yang terjadi karena infeksi HIV umumnya ringan dan tidak berbahaya. Namun, jika ruam terjadi karena reaksi alergi setelah mengonsumsi obat anti-HIV, kondisinya bisa membahayakan dan harus segera ditangani. Pasalnya, reaksi alergi ketika mengonsumsi obat anti-HIV bisa mengakibatkan sindrom Stevens-Johnson, bahkan penyakit yang disebut necrolysis epidermal toxic.

Pengidap HIV dan AIDS dianjurkan untuk segera melakukan pemeriksaan medis ke rumah sakit terdekat apabila mendapati adanya ruam pada kulit, terlebih jika diikuti dengan wajah dan lidah yang mengalami pembengkakan, kulit terasa sakit, muncul luka lepuhan pada area sekitar mata, hidung, mulut, atau bagian kulit lainnya.

KONSELING & TESTING GRATIS

R.ANGGREK, KLINIK VCT, KEDIRI

# FB: R.Anggrek, Klinik VCT, Kediri

https://www.facebook.com/KLINIK.VCT.KEDIRI/

# IG: one_azis

https://www.instagram.com/one_azis?r=nametag

# WA: 0857 363 60 363

https://wa.me/message/TMI4LEJTPJNAL1