Pertama Kalinya, Kasus Reinfeksi Corona Terkonfirmasi di China

Jakarta - AN Uyung Pramudiarja - detikHealth - health.detik.com

Untuk pertama kalinya, kasus reinfeksi virus Corona COVID-19 terkonfirmasi di China. Beberapa kasus sebelumnya tidak pernah terkonfirmasi sehingga memunculkan dugaan bahwa yang sebenarnya terjadi adalah kemungkinan false positive maupun reaktivasi virus yang masih ada di dalam tubuh.

Konfirmasi atas reinfeksi yang dialami seorang pria Hong Kong mejadi petunjuk baru untuk menjawab pertanyaan: berapa lama kekebalan terhadap SARS-CoV-2 berlangsung?

Dalam beberapa kasus terdahulu, pasien yang sembuh dari COVID-19 masih bisa memiliki fragmen virus di tubuhnya. Fragmen ini bisa memberikan hasil positif dalam tes Corona meski sebenarnya sudah tidak ada virus yang aktif, sehingga mengesankan terjadi infeksi ulang.

 

Namun kini, para ilmuwan melaporkan seorang pasien yang terinfeksi ulang dengan dua strain virus Corona yang secara genetik berbeda dan berselang beberapa bulan. Demikian dilaporkan para ilmuwan dari University of Hong Kong.

Meski demikian, temuan ini disebut tidak perlu memicu kepanikan.

"Ini tidak membunyikan alarm. Ini adalah contoh textbook bagaimana imunitas bekerja," kata Akiko Iwasaki, profesor imunobiologi dan molekular dari Yale School of Medicine, dalam cuitannya.

Pasien yang sebelumnya sehat didiagnosis COVID-19 pertama kali pada 26 Maret dengan gejala ringan berupa batuk, nyeri tenggorokan, sakit kepala, dan demam beberapa hari. Keluhan mereda setelah dirawat pada 29 Maret dan boleh pulang pada 14 April setelah dua kali tes menunjukkan hasil negatif.

Berselang 4,5 bulan kemudian, pasien mendapatkan hasil positif dalam skrining di bandara Hong Kong pada 15 Agustus. Ia kembali dirawat, namun kali ini tanpa gejala.

"Sementara imunitasnya tidak cukup untuk menangkal reinfeksi, ini melindunginya dari sakit," tulis Iwasaki, dikutip dari Livescience.